Selasa, 11 September 2012

LEMBAGA-LEMBAGA KEMASYARAKATAN

LEMBAGA-LEMBAGA KEMASYARAKATAN A.Pola Perdagangan dan Keuangan dalam Pemasaran Tani di Jawa 1.Pola perdagangan dan jenis pedagang Pola perdagangan tergantung pada mudah rusaknya barang-barang maupun maupun dari hubungan antara jumlah yang dihasilkan dengan kapasitas absorbsi pasar lokal terhadap barang-barang itu. Pola perdagangan juga berbeda sesuai dengan hal apakah barang-barang itu dijual eceran kepada pemakai atau secara besar-besaran kepada pedagang baru lain. Pada umumnya barang yang mudah rusak dari produsen-produsen kecil yang tersebar, dikerjakan dengancara yang disebut teknik perdagangan besar secara kecil-kecilan, sedangkan barang yang tidak begitu mudah rusak yang besar permintaannya di kota-kota dikerjakan dengan teknik perdagangan besar. Beberapa jenis hasil bumi dan banyak hasil industri rumah tangga melahirkan beberapa masalah khusus sebagaimana juga hasil pabrik dan barang-barang impor dan tidak tergolong pada kategori tersebut di atas. Para pedagang digolongkan sesuai dengan fungsi yang dilakukannya: transport, pengumupulan barang, penyimpanan dan pemecahan jumlah-jumlah yang besar untuk perdagangan eceran. Taraf spesialisasi menurut fungsi dan hasil para pedagang berhubungan erat dengan sifat-sifat pasaran barang-barang dengan volume yang diperjualbelikan. 2. Spesialisasi dan pembagian kerja Spesialisasi fungsi di antara para pedagang lahir dari kebutuhan pembagain pekerjaan dalam satu usaha yang demikian besar dan kompleksnya sistem pemasaran tani di Jawa. Timbulnya ragam pola perdagangan disebabkan oleh sifat barang-barang itu, volume yang harus diusahakan, tingkat konsentrasi pada hasil perdagangan dan sifat mudah rusaknya barang-barang itu. 3. Cara orang-orang Jawa menggambarkan arti sistem Umumnya orang Jawa tidakk menggambarkan arti sistem itu sebagai jasa-jasa yang diberikan oleh beberapa kelas pedagang sebagaimana dilakukan yang lainnya.Mereka tidak melihat bagaimana keuntungan yang diterima merupakan imbalan atas pekerjaan yang mereka lakukan.Pedagang—edagang pengngkat yang membawa barang-barang dari daerah dianggap sebagai seorang yang mengambil keuntungan dari kelebihan di desa dan dari ketidakberanian dan kekurangan keterampilan serta pengetahuan produsen. 4. Sahnya keuntungan perdagangan Suatu segi yang menarik dari yang dapat dilihat dari mempersoalkan keuntungan perdagangan adalah bahwa pedagangan merupakan caramencari penghidupan yang sah. Sikap ini diambil oleh pedagang maupun bukan pedagang dan masyarakat mengakui hak dari mereka yang ingin mencari uang dengan jalan manipulasi persediaan dan perminataan.Setiap orang mengakui bahwa pengangkutan dan perdagangan harus dilakukan jika hasil usaha meraka hendak djual dan barang-barang konsumen disediakan. Bahwasanya orang menghayati pentingnya jasa-jasa yang dilakukan oleg pedagang melahairkan suatu dasar untuk mengakui perdagangan sebagai kedudukan yang sah, sekalipun keuntungan dari itu tidak dianggap sebagai upah untuk pekerjaan yang dilakukan. 5. Mudahnya masuk bidang perdagangan Mudahnya masuk bidang perdagangan juga membentuk pandangan orang awam terhadap pedagang-pedagang Jawa tetapi tidak terhadap pedagang Cina.Sukar membedakan antara oedagang dan bukan pedagang, maka hampir tidak terdapat sifat permusuhan.Jika seorang petani merasa tidak mendapatkan harga yang wajar untuk barangnya dari pedagang pengangkut, maka ia akan menajalankan dagangannya sendiri. Demikian juga para pedagang pengangkut bisa berfungsi sebagai seorang tengkulak. Dengan demikian, maka dengan mudahnya masuk bidang perdagangan dapat menjamin mereka yang bersangkutan bahwa tidak aka nada pihak yang mengambil keuntugan luar biasa, karena setiap orang yang beranggapan demikian dengan sendirinya akan menjadi pedagang. B. Mengembalikan Keberadaan Gerakan Masyarakat 1. Memahamim gerakan rakyat Sebagai ilustrasi ada seorang lurah memeirntahkan para rakyatnya untuk kerja nakti membangun dam. Secara obyektif pembangunan dam ini non sense atau sia-sia karena pasti akan hancur dalam satu hari. Rakyat pun tahu kondisi ini obyektif ini apalagi mereka juga tahu sebagian uangnya dimakan oleh pak lurah.Bagai kaum terpelajar gerakan untuk menentang pak lurah ini diekspresikan dengan cara-cara protes seperti mosi tidak percaya, sebaliknya bagi masyarakat walaupun mereka tahu non sense tetapi karena ini perintah pak lurah maka dikerjakan juga. 2. Dua logika dibalik gerakan Ada 2 logika yang berbeda apabila kita mencoba mengerti gerakan masyarakat.Logika pertama adalah logika kaum terpelajar sedangkan yang lainnya adalah logika dari masyarakat bwah itu sendiri. Misal, kita sering mendengar bagaimana wong cilik menarik diri dari segala ramainya kehidupan social politik. Bagi kaum terpelajar ini sering diartikan sebagai gejala escapisme masyarakat bawah. Istilah escapismehanya bisa datang dari orang yang aktif yang sedikit banyak sudah memiliki gaya berfikir barat. Yang disebut aktif selalu berkonotasi yang baik sedangkan yang pasif itu negatif atau jelek. 3. Terbatasnya kontrol Dalam perjalanan sejarah selalu terbukti bahw apenguasa dalam puncak kekuasaannya selalu lengah.Semkain tinggi kekuasaannya, semakin besar juga persentase kelengahannya, dan ini merupakan hukum sejarah yang bbisa kita pelajari. Misal analoginya dengan mobil dan peswat, jika saya naik mobil bahayanya juga ada tetapi mobil itu sedikit banyak bias saya kontrol, tetapi jika saya sudah ada dalam pesawat jumbo maka sedikit saja kelengahan maka sudah pasti hancur. Semakin canggih jumbo atau raksasa maka akan semkain lemah. Sense of survival danmonitoring system orang miskin tentang bahaya di sekelilingnya tinggi sekali. Sebaliknya orang-orang kaya atau berkuasa sangat lemah.Jadi tidak heran jika memerlukan para tukang pukul untuk melindunginya dan ini merupakan suatu hukum alam. Mengenai adanya intervendi dari luar terhadap gerakan masyarakat, sangat tergantung kepada cara melihatnya. Hal ini bias diumpamakan seperti mesiu dan pijar api. Jika mesiu itu ditumpuk dan kemudian ada satu pijar api yang menyulutnya maka mesiu akan meledak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar