Senin, 07 November 2011

TEORI PERILAKU DAN TEORI KOGNITIF SOSIAL

TEORI PERILAKU DAN TEORI KOGNITIF SOSIAL

Tema pokok tulisan ini adalah pembelajaran, dan initinya adalah apakah yang dapat guru lakukan untuk mendukung pembelajaran seluruh siswa. Bab ini merupakan bagian pertama dari tiga pengembangan gambaran teoritis topik tersebut. Kita mulai bagian ini dengan penjelasan teori belajar dalam perspektif behavioris dan diikuti oleh pembahasan mengenai teori kognitif sosial, sebuah gambaran pembelajaran yang mencakup unsur-usur perilaku tetapi hal tersebut harus melalui proses pengujian semacam kepercayaan dan harapan-harapan, yang tidak dipertimbangkan oleh kaum behavioris.
Dengan selesainya pembahasan bab ini, diharapkan mampu menemukan bagian-bagian berikut:
- Mengidentifikasi contoh-contoh pembasan klasik dalam suasana ruangan kelas.
- Menjelaskan kasus-kasus perilaku siswa dengan menggunakan konsep-konsep seperti: penguatan kembali, penghukuman, generalisasi, diskriminasi, kejenuhan dan penghapusan (kepunahan).
- Menjelaskan pengaruh jadwal penguatan kembali perilaku siswa.
- Mengidentifikasi contoh model dan pengalaman belajar dalam situasi kelas.
- Menggambarkan karakteristik perilaku diri yang teratur dalam masyarakat.

Pandangan Behaviorisme Tentang Pembelajaran
Dari perpektif behaviorisme, belajar merupakan suatu perubahan mutlak secara relative dalam perilaku yang dapat diobservasi yang timbul sebagai hasil dari pengalaman (Mazur, 1994). Sebagai catatan bahwa defenisi ini mengkhususkan hanya pada perilaku yang diobservasi. Ahli behavioris memperoleh nama dengan berfokus pada kelakukan orang yang dapat dilihat. Hal ini tidak mempertimbangkan beberapa struktur eksternal, wawasan, proses atau kebutuhan-kebutuhan.
Kita mulai mempertimbangkan defenisi ini dengan catatan bahwa perubahan tingkah laku terjadi secara relatif. Kita semua dapat melihat atau mengalami perubahan pada masa lalu dari hasil dan ketegangan emosi atau luka. Perubahan seperti ini dapat disimpulkan sebagai “belajar”.
Perubahan kelakuan sebagai suatu hasil pendewasaan tidak akan disebut membawa tas besar yang saudara laki-lakinya lebih tua 6 tahun tidak dapat mengangkat benda itu.
Dia lebih baik dan kuat sebagai suatu kesimpulan dari pendewasaan.

1. Contiguity (Hubungan)
Bentuk pembelajaran yang timbul melalui hubungan, pemaduan secara sederhana antara stimulus (S) dan respon (R). Hubun Hubungan didasarkan pada prinsip bahwa jika dua sensasi muncul secara bersamaan, mereka menjadi terasosiasi (Leahey dan Harris, 1993).
Stimulus adalah seluruh penglihatan, bunyi, rasa dan pengaruh-pengaruh lain alat penginderaan yang diterima dari lingkungan. Respon adalah perilaku-[erilaku yang merupakan hasil dari asosiasi. Hubungan muncul di ruangan kelas jika stimulus dan respon dipadukan dan diulangi semacam kegiatan latihan pengulangan dengan kartu pengikat (yang diperlihatkan sebentar).

2. Classical Conditioning (Pembiasaan Klasik)
Sekalipun pasangan S-R dapat dipakai untuk menjelaskan pembelajaran dan perilaku sederhana, pembelajaran itu sangat kompleks. Contohnya, Tim yakin akan kecakapannya mengerjakan Aljabar II, namun ia merasa bingung dalam mengerjakan tes. Akibatnya, ia mengalami kegagalan karena gugup dan terlambat mengerjakan tes. Sebagai bukti ia berpuitar-putar pada masalahnya. Bagaimanapun juga, tes Aljabar yang sebelumnya tidak menyusahkan dia, tergabung dalam gagalnya dan membuatnya gugup, sebuah emosi yang menghubungkan rasa kepanikannya dengan kegagalan terhadap tes. Di sini terlihat adanya stimulus dan respon, tetapi pasangan S-R sederhana tidak mampu menjelaskan tingkah laku Tim. Ada sesuatu yanglebih kompleks yang perlu diperhatikan.

Teori Classical Conditioning Pavlov
Menurut sejarah, tipe pembelajaran ini dipopulerkan oleh Ivan Pavlov, seorang psikolog Rusia yang menerima Hadiah Nobel pada tahun 1904 karena hasil penelitiannya. Salah satu bagian dari penelitiannya, ia melakukan percobaan terhadap seekor ajing yang dimaksudkan untuk mengeluarkan air liur pada kondisi yang berbeda-beda. Awalnya pembantunya memberi makanan tambahan berupa daging halus yang menyebabkan anjing itu mengeluarkan liur. Akan tetapi pada penelitian lanjutan anjing itu tetap mengeluarkan air liur ketika pembantunya datang pada saat yang berbeda dan tidak membawakana daging kepadanya. Hasil penelitian Pavlov ini sangat mengejutkan dan membuka lapangan studi baru dan disebut classical conditioning “pembiasaan klasik” atau respondent learning karena pebelajar member respon terhadap lingkungan.
Sebuah contoh yang berhubungan dengan classical conditioning, ketika Tim gagal dalam tes, dia merasa terpukul, dia tidak dapat mengendalikan perasaannya (bimbang). Perasaannya tidak enak dan emosional, itulah sebuah respon yang tidak terkondisikan. Sebuah respon yang replektif tanpa sengaja membuatnya gagal mengerjalkan tes. Kegagalan itu adalah sebuah stimulus yang tidak terkondisikan, stimulus yang menghasilkan respon yang tidak terkondisikan. Dalam eksperimen Pavlov, stimulus yang tidak dikondisikan adalah daging halus yang megakibatkan keluarnya air liur sebagai psikolog yang tidak disengaja.

Karakteristik Classical Conditioning
a. Belajar (pembelajaran memerlukan tempat)
b. Respon menyangkut emosional psikolog dan tanpa disengaja dan di luar control kesadaran pebelajar.
c. Stimulus yang terkondisi atau tidak, dilakukan dengan berbagai cara sehingga menjadi terasosiasi.
d. Respon yang terkondisi atau tidak, boleh jadi identik atau mirip.

Classical Conditioning dalam Ruang Kelas
Ruang kelas sebagai contoh classical conditioning sebenarnya sudah umum/biasa. Misalnya, banyak siswa yang gelisah dalam tes. Hal ini tidaklah berarti tidak umum bagi beberapa anak-anak muda mengalami kesulitan secara fisik di sekolah dan beberapa orang tua enggan untuk mengerti fungsi sekolah atau merespon permintaan guru. Classical conditioning dapat membantu kita menjelaskan contoh tersebut. Selain itu dapat pula menjelaskan perasaan-perasaan positif, misalnya sebuah lagu yang mampu membangkitkan perasaan atau suasana hati.
Pemahaman classical conditioning dapat membantu kepekaan guru terhadap pentingnya suasana kelas dan bentuk asosiasi siswa mereka. Misalnya, pikiran siswa jika menemui kesulitan di sekolah atau kelas baru yang diperlakukan dengan kehangatan dan mendapat membantu perhatian yang cukup dari guru mereka. Hal itu akan memberikan kesan. Sebagai respon pebelajar dengan sendirinya untuk memperhatikan kehangatan yang sejati. Jika guru konsisten dalam sikapnya, para siswa nulai mnengasosiasikan sekolah dengan kehangatan guru. Sekolah mendatangkan perasaan menyenangkan dan aman bagi siswa. Kehangatan yang diperlihatkan guru merupakan stimulus yang tidak terkondisikan. Sekolah atau kelas yang mereka asosiasikan dengan kehangatan guru sebagai stimulus yang terkondisikan. Perasaan emosional mereka yang positif sebagai respon.

Generalisasi dan Diskriminasi
Generalisasi muncul bilama stimulus berhubungan/terkait dengan stimulus yang terkondisi serta mendatangkan respon yang terkondisi oleh dirinya sendiri. Misalnya, tim gugup ketika mengambil hasil tes aljabar II (gagal), dia juga gugup ketika mengambil hasil tes kimia (takut gagal). Dia selalu gugup jika mengerjakan tes pengetahuan yang bekaitan dengan aljabar.
Diskriminasi adalah kemampuan untuk memberikan respon-respon yang berbeda untuk dihubungkan tetapi bukan stimulus yang identik. Misalnya tim gugup selama tes Kimia tetapi tidak pada saat bahasa Inggris dan Sejarah. Contohnya dia memberdakan antara bahasa Inggris dan Matematika dengan respon-responnya yang berbeda.

Extinction (Penghapusan)
Dalam studi kasus tim, dia telah melakukan lebih baik semenjak ia beljar dengan Susan dan mengubah kebiasaan belajarnya. Suatu waktu jika ingin mencapai sukses, kegugupannya akan hilang, atau respon yang terkondisi akan hilang. Extinxction atau penghapusan ini terjadi bilamana rangsangan muncul berulang-ulang dalam ketidakadanya rangsangan yang tak terkondisi.
Dalam kasus tim, pengulangan pengambilan hasil tes tes merupakan stimulus yang terkondisi, tes yang tejadi tanpa kegagalan merupakan stimulus yang tidak terkondisi. Suastu saat nanti tidak ada hasil dalam kondisi yang menngelisahkan (respon yang terkondisi).
Penerapan Contiguity dan Classical Conditioning dalam Ruang Kelas
1. Keputusan yang hati-hati adalah salah satu bentuk pembelajaran untuk siswa yang akan memberi respon. Dengan memperbanyak pengulangan dan latihan akan mempertajam ingatan terhadap materi pelajaran.
2. Siapkan kondisi aman dan hangat dalam kelas yang bisa membangkitkan emosi positif belajar.
3. Ketika murid-murid bertanya, buatlah mereka dalam suatu keadaan yang menyenangkan untuk memastikan hal yang positif (puas).
4. Siapkan siswa dengan praktik dalam situasi yang berhubungan dengan keinginan yang potensial.

3. Operant Conditioning
Teori ini dipopulerkan oleh B.F. Skinner (1904-1990), seorang ahli psikologi tingkah laku yang menjadikannya pada pertengahan tahun 60-an menjadi orang yang sangat terkenal sebagai kepala bagian psikolog hingga akhir tahun 60-an. Hal ini juga membuatnya menjadi seorang psikolog yang berpengaruh di abad ke-20 (myers:1970). Skinner percaya bahwa respon-respon yang menuju ke stimuli khusus hanya dicatat pada proposi yang kecil dari semua perilaku-perilaku. Dia menyarankan bahwa tingkah laku lebih banyak dikontrol oleh akibat-akibat dari tindakan daripada oleh peristiwa-peristiwa yang melingkupi tindakan-tindakan. Konsekuensi itu merupakan outcome (stimulus) yang muncul setelah perilaku itu mempengaruhi perilaku yang akan datang. Contoh: pujian seorang guru setelah seorang siswa menjawab, itu adalah suatu konsekuensi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar